Mereka saling bertukar informasi dan pengalaman yang mereka alami selama ini , sedangkan aku dan adikku juga asyik menonton TV di ruang tengah , karena begitu asyiknya sampai-sampai ibuku lupa untuk menyajikan minuman dan makanan kecil untuk para tamu sebagai pendamping untuk mengobrol . Untuk minuman persediaan kami masih banyak , masih sekitar satu tangki pertamina yang berisi 5000 liter , namun hal ini justru berbalik untuk makanan kecil , satu butirpun kami tidak memiliki makanan kecil di dalam lemari dan kulkas kami yang ada malah sebuah rangkaian sarang laba-laba guna mencari mangsanya . Sebagai gantinya ibuku menyuruhku untuk membeli jajanan tradisional arum manis / kembang gula yang biasanya pada jam-jam begini penjualnya sedang beristirahat di dekat masjid . Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil sepedaku dari tempat persemayaman benda-benda tak berguna alias gudang di belakang dan setelah menerima uang dari ibuku , aku pergi ke masjid yang letaknya di kampung sebelah .Tak lupa aku membawa adikku dan kutempatkan di stang tengah . Setelah kukayuh beberapa kali sepedaku itu akhirnya kami sampai di masjid yang dituju . Ramalan ibuku ternyata benar penjual arum manis itu sedang duduk-duduk termenung menunggu pelanggannya .
Tadinya kukira penjual itu adalah orang yang sedang mencari wangsit , tapi setelah melihat rombong yang bertuliskan “ Arum Manis Sepesial “ terletak di dekat tempatnya aku sadar bahwa orang itu adalah penjual arum manis . Kami berdua menghampirinya untuk membeli jajanan tradisional itu . Akan tetapi di belahan masjid yang lain kami tampak ada segerombolan orang-orang yang sedang beramai-ramai membicarakan sesuatu , karena penasaran aku dan adikku setelah mendapatkan arum mais menghampiri keramaian itu . Ketika hendak menuju keramaian itu , tidak sampai melangkahkan kaki 2 langkah ada seseorang yang menepukku dari belakang . Kukira siapa ternyata dia adalah teman sekelasku yang pada saat di sekolah tadi tenggorokannya sempat kedatangan tamu berupa pentol . Temanku saat itu tampak bingung , terlihat dari kaos yang dipakainya yang bertuliskan ‘ Convious ‘ , selain itu juga tampak dari ekspresi wajahnya yang juga menggambarkan wajah-wajah orang bingung . Lalu dia bertanya kepadaku , “ Yung , kamu lihat orang tua yang kelihatan agak stres gak di sini ? Orangnya pake baju putih , terus celananya ¾ warna hitam “ . “ Aku gak tau ? Aku kan baru sampai di sini . “ ujar aku , karena penasaran aku membalas pertanyaanya , “ Memang kenapa ? “ . Temanku menjawab , “ Gak , itu aku lagi disuruh nenek sama orang tuaku buat nyariin kakekku yang agak stres . Dia kabur dari rumah gak lama setelah aku pulang sekolah tadi “ . Oh , ternyata wajah bingungnya itu disebabkan oleh masalah kakeknya yang agak terganggu jiwanya sedang kabur dari rumah dan sekarang mendapat status buronan yang paling dicari-cari di rumahnya . Sebenarnya aku sangat ingin sekali membantunya namun , apa yang dapat kuperbuat , wajahnya saja aku tidak tahu dan juga aku membawa adikku yang sekarang juga sedang ditunggu oleh orang tuanya , jadinya aku tidak dapat membantu temanku itu . Sebagai gantinya aku mengusulkan dia agar bertanya kepada segerombolan orang yang sedang berkerumun di dekat masjid di situ , mungkin saja mereka tahu akan berita dan sosok yang sedang temanku cari-cari itu . Setelah mendengarkan saranku dia lekas melakukannya dia mulai bertanya kepada salah seorang yang sedang berkerumun dan pada saat itu juga dia segera mendapatkan kabar tentang kakeknya itu . Aku sempat mendampinginya bertanya kepada orang itu , ketika temanku itu menanyakan hal yang serupa dengan pertanyaan yang dilontarkannya padaku orang itu menjawab denagn cepatnya , “ Oh , mungkin orang yang adik cari-cari itu , orang yang sedang ada di puncak masjid itu ! “ . Mendengar jawaban orang itu temanku langsung kaget untung pada saat itu dia tidak sedang memakan pentol , tak lama setelah mendengar jawaban itu temanku langsung mengarahkan pandangannya ke puncak kubah masjid seperti yang ditunjuk orang tersebut .
Ternyata benar orang gila yang sedang melambai-lambai di puncak masjid itu adalah kakek temanku yang sedang dicarinya . Kakek temanku itu memang sangatlah berani memanjat masjid pencakar langit itu tanpa takut jatuh atau terpeleset , dia bahkan melambai-lambaikan tangannya yang hanya tersisa kulit dan tulang kepada kerumunan orang yang ada di bawahnya . Sementara itu melihat kakeknya yang sedang berpose ala Patung Liberty Di New York yang tidak mau turun dari tempatnya itu temanku segera mengontak seluruh keluarganya yang sekarang juga sedang mencari keberadaan si kakek di dimensi yang lain . Tak lama setelah di panggil semua keluarganya datang ke masjid itu . Aku yang tadinya keluar sebentar untuk membeli jajan buat adikku malah menjadi berlama-lama di masjid karena peristiwa ini . Di pihak lain semua keluarga temanku membujuk kakeknya untuk segera turun , akan tetapi negosiasi itu berjalan alot . Temanku lantas sebagi cucu yang berbakti hendak menelpon tim SAR untuk mengevakuasi paksa kakek tercintanya itu dari ujung kubah masjid , namun tak lama setelah bernegosiasi kakek tersebut akhirnya mau turun sendiri atas kemauannya sendiri . Semua orang di tempat itu memberi tepuk tangan yang meriah untuk aksi gemilang si kakek di puncak masjid . Pada akhirnya setelah turun , kakek tersebut segera diamankan di rumahnya . Temanku yang awalnya ingin menelpon tim SAR , tidak jadi , setelah melihat kakeknya yang mau turun sendiri .
Untuk antisipasi jangka lanjut keluarga kakek itu berniat mengurung kakeknya itu dengan penjagaan yang amat ketat untuk memasuki kamarnya hanya beberapa orang yang dapat memasukinya melaui alat pemindai retina , dan kode keamanan untuk pintu serta lantai tempat tidurnya yang memiliki sensor gerak bagi orang asing yang masuk dan baru kusadari yang membuat orang-orang berkerumun adalah aksi kakek temanku yang gemilang di puncak masjid . Pada akhirnya drama menegangkan itu selesai dan semua orang yang berkerumun kembali ke rumahnya masing-masing , sedangkan aku juga kembali ke rumahku . Dalam perjalanan kami memakan arum manis kami , pada sore harinya adikku beserta keluarganya pulang ke kediamannya .










0 komentar:
Poskan Komentar
Poskan Komentar