GUDANG BANYOLAN

Lelucon & Banyolan Terkonyol Di Dunia

Favorite Links


9:19 PM

Pemburu Hantu Gadungan

Diposkan oleh Buyung Afrianto

Tak heran jika anak-anak yang lain sangat genbira sedangkan aku merasa biasa-biasa saja . Namun tidak apalah meski tidak terlalu menantang tetapi cukup bagus untuk acara hiburan saat weekend . Setelah mendengarkan pengumuman itu kami semua lantas segera melanjutkkan pelajaran kami sebab bel sebagai tanda masuk telah berdering . Akan tetapi kami semua tetap tidak melupakan pengumuman barusan , untuk berjaga-jaga semua temanku langsung menyiapkan segala kebutuhan untuk hari itu padahal acara tersebut baru dimulai satu minggu lagi . Untuk mempersingkat waktu langsung saja kuceritakan inti dari cerita ini , pada akhirnya hari acara yang ditunggu-tunggu tiba . Pertama-tama kami memulai acara Persami kami dengan mengadakan upacara pembukaan , di dalam upacara itu kami semua diberi arahan dan petunjuk guna menyukseskan acara ini . Setelah itu dilanjutkan dengan mendirikan tenda di tempat yang telah ditentukan masing-masing , namun kali ini kelompokku mendapatkan masalah , pada saat temanku hendak mencari tenda semua tenda sudah habis disewa oleh teman-temanku yang lain , hal ini tentunya cukup untuk membuat teman-temanku menjadi botak karena terlalu memikirkan masalah ini , akan tetapi hal ini tidak berlaku untukku , bagiku hal ini adalah hal yang lumrah di kalangan pejabat sekalipun . Untuk menghilangkan raut muka yang sangat buram di wajah teman-temanku aku segera memutar otak untuk dapat mencari jalan keluar dari permasalahan ini . Akupun sempat kehabisan akal sebab harus di mana lagi aku mencari tenda , semua tendakan sudah dipesan . Akalku tidak akan hanya putus sampai di situ , kudengar-dengar ada salah seorang anggota kelompokku yang pada malam sebelumnya mengadakan kenduri di kampungnya , guna meyakinkan aku tanyai anak itu . Ternyata benar , semalam di kampungnya baru diadakan kenduri guna mengucapkan rasa syukur atas anaknya yang baru sembuh dari sakit panu . Akupun hendak mengajak temanku itu untuk kembali ke rumahnya guna meminjam terpal yang hendak kujadikan tenda . Sejenak kami berdua berkompromi mendebatkan masalah itu . Beberapa detik kemudian kami berdua berhasil menarik benang merah atau kesepakatan . Temanku itu bersedia meminjamkan terpalnya itu sebagai tenda asal jika akan dikembalikan sudah harus dalam keadaan seperti saat meminjam dan jika rusak harus ditanggung bersama .

Tanpa menunggu aba-aba temanku langsung melakukan start dari basekamp kami menuju rumahnya yang berlokasi tak jauh dari sekolah . Hal ini sangat sesuai dengan peribahasa yang cukup terkenal di negeri zamrud khatulistiwa “ Tidak ada rotan akarpun jadi “ bagi kami “Tidak ada tenda terpalpun jadi”. Habis mau bagaimana lagi jika aku mencari ke seluruh toko dan tempat persewaan tenda akan memakan banyak waktu lagipula belum tentu semua toko masih tersedia tendanya jadinya aku menarik sebuah hipotesis untuk mengganti tenda dengan barang subtitusinya yaitu terpal , itupun masing bagus tadinya aku ingin memakai tenda beratap langit dan beralaskan bumi alias tidak pakai apa-apa . Akhirnya temanku itu datang dengan membawa gulungan yang awalnya kukira kue dadar gulung raksasa yang ternyata terpal berwarna putih kecoklatan . Semua anggotaku segera bergotong royong membangun tenda yang akan dipakai sebagai tempat hunian sementara kami . Tak lama , dalam sekejap tenda kami sudah berdiri , meskipun tidak simetris namun masih tetap berdiri kokoh yang kuat akan terjangan badai , ombak , topan , bahkan halilintar . Kemudian acara kembali dilanjutkan setelah mendirikan tenda kami harus segera bersiap-siap untuk melakukan acara yang paling melelahkan dalam Persami yaitu penjelajahan / outbond . Sekitar pukul 4 sore penjelajahan dilaksanakan , rute kami dimulai dari menyusuri kampung di sekitar sekolah kami sampai kembali ke tempat basekamp kami semula . Cukup lama acara ini berlangsung sekitar 2 sampai 3 jam , tak heran jika anak-anak mengeluarkan asam yang berbau menyengat bila dihirup kaibat dari kelelahan .

Pukul 6 malam pas kelompokku tiba di basekamp , sesampainya kami di sana aku langsung mengistirahatkan diri dalam tenda jadi-jadian kami . Sementara itu teman-temanku ada yang makan malam dan ada pula yang melaksanakan sholat maghrib dan ada pula yang mandi dengan suasana angker di dalam kamar mandi sekolahku . Kami diberi waktu sekitar 1 jam untuk istirahat dari kegiatan penjelajahan , setelah itu semua peserta diharap berkumpul di lapangan upacara untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu pentas seni . Acara selanjutnya adalah pentas seni yang mewajibkan setiap kelompok untuk menampilkan keistimewaan yang dimiliki kelompoknya masing-masing . Di samping itu sementara anak-anak masih mandi aku makan malam bersama salah seorang anggotaku , kami sempat bercerita dan berbagi pengalaman-pangalaman kami di tenda itu , karena kami berdua sama-sama senasib dan seperjuangan kami berdua bahkan sempat bertukar lauk pauk yang kami bawa dari rumah . Sesudah makan kami berdua menuju ke lapangan sekolah untuk mengukuti acara selanjutnya , karena kami terlau cepat jadinya masih banyak peserta yang belum bermunculan di lapangan . Jadinya , kami memutuskan untuk bermain di sana , di saat itulah inti dari cerita inti mulai . Ketika kami bermain kami melihat teman kami yang berjenis kelamin perempuan sedang berdiri termenung sendirian di bawah pohon , kebetulan anak itu adalah teman sekelas kami . Anak itu terlihat sangat pucat dan di bawah matanya terlihat garis hitam melengkung mendampingi bulu matanya , Kukira dia sama sepertiku sedang menunggu teman-temannya yang masih belum selesai berbenah diri di tenda , ternyata semua itu keliru , tiba-tiba saja anak itu pingsan tepat di bawah naungan pohon yang tak jelas jenisnya . Akupun sempat kaget jangan-jangan anak ini kenapa-napa akupun segera menghampiri anak itu sementara temanku memanggil bala bantuan orang untuk dapat membantu masalah ini . Tak lama kemudian bala bantuan datang , eh bukannya petugas PMR atau Pembina pramuka yang datang malah penjaga perpustakaan yang tiba di tempat TKP . Akupun membiarkan orang tua bercorak etnis suku Bugis bercampur Asmat ini menangani temanku yang sedang pingsan . Setelah diperiksa sejenak orang ini langsung mendiagnosa bahwa temanku ini sedang kemasukan benda lelembut ( tepung , terigu , gula , pasir dll ) .

Aku lantas mempercayainya sebab di sekolah orang ini konon terkenal sebagai penjaga perpustakaan sekaligus merangkap sebagai ahli benda-benda mistik selain itu juga orang ini adalah orang yang melatih petugas PMR . Tak lama orang itu memantrai temanku itu dengan berbagai mantra yang telah dikuasainya . Tidak hanya itu orang inipun juga bergaya seperti kyai-kyai di acara Pemburu Hantu yang hendak memasukkan makhluk gaib ke dalam botol . Akupun di suruh untuk mengambil segelas air untuk melengkapi ritualnya , karena saat itu kantin sedang tutup dan persediaan minumku sudah habis jadinya aku mengambil Aqua bekas temanku yang masih tergeletak di dalam tenda . Segera aku memberikan air itu kepada si pemburu hantu , begitu dia mendapatkan air itu dia memantrainya dengan mulut komat-kamit tak karuan dan setelah selesai langsung menyemburkannya ke arah muka si pasien . Beberapa menit kemudian temanku menjadi sadar , batinku benar-benar hebat sekali orang ini dalam sekejap orang yang tadinya kesurupan langsung sadar setelah ditangani olehnya . Namun semuanya itu hanyalah fana termasuk prasangkaku barusan , usai sadar temanku ditanyai mengenai sebab dan penyebab dia jatuh pingsan . Sesudah ditanyai dia menjawab dengan alasan yang simpel “ Oh , itu karena aku lapar belum makan soalnya bekalku belum diantar oleh orang tuaku , jadinya aku tunggu di bawah pohon itu “ . Sebuah kesalahpahaman yang luar biasa tadinya semua orang mengira bahwa anak itu kesurupan oleh penunggu pohon itu , ternyata tidak dia pingsan hanya dikarenakan lapar dan dia kembali sadar bukan karena kehebatan si pemburu hantu gadungan melainkan karena semburan si kakek yang berirama bangkai dan bernafaskan sampah , karena begitu bau mulut si kakek ini menyebabkanb temanku segera sadar dari alam bawah sadarnya , mungkin orang yang sudah mati dapat bangkit kembali setelah menerima semburkan nafas si kakek pada mayat .

Sementara itu si penjaga perpustakaan sekaligus si pemburu hantu gadungan merasa sangat malu dengan aksi-aksi yang baru dipertontonkan pada semua publik . Akupun merasa diperdayai dengan semua ini , beruntung tidaklah terlalu banyak yang mengetahui soal ini jika tidak mungkin orang tua itu akan berpindah profesi dari penjaga perpustakaan menjadi penjaga WC siswa . Usai mengetahui yang sebenarnya kami semua bubar dari tempat itu dan melanjutkan acara selanjutnya . Acara-demi acara kami lalui , namun tidak ada satupun yang berkesan dalam hidupku selain peristiwa kesurupan itu . Akhirnya upacara penutupan dilaksanakan sebagai tanda berakhirnya Persami tahun ini , meskipun kelompokku tidak mendapatkan juara aku tidak kecewa sebab aku masih mendapatkan satu pengalamanku yang berharga dalam kegiatan ini .

0 komentar:

Poskan Komentar